Cari Blog Ini

Jumat, 23 November 2012

Lomba Cerpen "Pendidikan"

PENDAFTARAN
3-14 Desember 2012
sms dengan format: nama_TTL_sekolah/Universitas
kirim ke nomer 085641168145

STAN PENGUMPULAN DAN PEMBAYARAN
3-14 Desember 2012
Sekretariat HIMA PBSI (PKM Lt. 2)
atau untuk pembayaran bisa melalui rekening ke no 0210698197 a.n. Putri Wardani

KRITERIA PENILAIAN
1.  Warga Indonesia berusia 17-25 tahun
2. Foto kopi KTM/KTP/sim atau tanda pengenal lain.
3. Karya asli, belum pernah dipublikasikan dan diikutsertakan dalam lomba
4. Diketik, A4,Times New Roman, 12, spasi 1,5 margin normal, maksimal 5 hal
5. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu karya
6. Peserta menyertakan soft file dan hard file sebanyak 4 bendel.
7. Soft file dikirim ke FB HIMA PBSI UNY
8. Menyertakan biodata secara deskriptif dalam beberapa kalimat
9. HTM Rp10.000 (mahasiswa UNY), Rp20.000 (Luar UNY/umum)
10. Bukti pembayaran di foto dan di tag ke FB HIMA PBSI UNY (jika pembayaran dilakukan lewat rekening)
11.  Karya tidak boleh menyinggung SARA, pornografi, dan pornoaksi
12. Naskah cerpen yang diikutsertakan dalam lomba ini menjadi milik panitia
     (hak cipta tetap pada penulis) dan akan dijadikan satu antologi.

HADIAH LOMBA
JUARA I Tropy Rektor UNY + sertifikat + uang pembinaan
JUARA II Tropy Dekan FBS + sertifikat + uang pembinaan
JUARA III sertifikat + uang pembinaan


Sabtu, 17 November 2012

Pelatihan Motivasi Kepemimpinan (PMK) 2012

Heeey mahasiswa PBSI, ada agenda baru lhoo . . .
Pelatihan Motivasi Kepemimpinan (PMK)
tempat: Desa Wisata Kembang Arum, Turi, Sleman
tanggal: 1 Des 2012
pendfataran via SMS dengan format NAMA(spasi)NIM(spasi)KELAS dan kirim ke 0896724384346 (Ardy)

Agenda ini dikhususkan kepada MABA PBSI 2012 dan bagi kamu yang ingin tahu seperti apa dunia organisasi kampus atau yang mau nimbrung, yuk gabung aja, seru lho!



Senin, 12 November 2012

Akreditasi : Antara Nilai dan Realitas

Status akreditasi suatu perguruan tinggi merupakan cermin kinerja perguruan tinggi yang bersangkutan dan menggambarkan mutu, efisiensi, serta relevansi suatu program studi yang diselenggarakan.

Pengertian akreditasi dalam dunia pendidikan tinggi adalah pengakuan atas suatu lembaga pendidikan yang menjamin standar minimal sehingga lulusannya memenuhi kualifikasi untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi atau memasuki pendidikan spesialisasi, atau untuk dapat menjalankan praktek profesinya. Menurut Dr. Maman Suryaman Kepala Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FBS UNY akreditasi merupakan standarisasi suatu perguruan tinggi.

Mengenal Penyelenggara Akreditasi.
Akreditasi Perguruan Tinggi sekarang ini dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN-PT), merupakan lembaga non-struktural di bawah Menteri Pendidikan Nasional, yang ditetapkan melalui Keputusan Mendiknas nomor 187/U/1998, dan nomor 118/U/2003.
Pembentukan BAN-PT pada hakekatnya melambangkan niat dan kepedulian pemerintah dalam pembinaan penyelenggaraan perguruan tinggi, melayani kepentingan masyarakat, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Proses Akreditasi.
Proses akreditasi program studi dimulai dengan pelaksanaan evaluasi diri di program studi yang bersangkutan. Evaluasi diri tersebut mengacu pada pedoman evaluasi diri yang telah diterbitkan BAN-PT, namun, jika dianggap perlu, pihak pengelola program studi dapat menambahkan unsur-unsur yang akan dievaluasi sesuai dengan kepentingan program studi maupun institusi perguruan tinggi yang bersangkutan. Dari hasil pelaksanaan evaluasi diri tersebut, dibuat sebuah rangkuman eksekutif, yang selanjutnya rangkuman eksekutif tersebut dilampirkan dalam surat permohonan untuk diakreditasi yang dikirimkan ke sekertariat BAN-PT.


Apa saja yang dinilai?
Dalam model Akreditasi institusi perguruan tinggi BAN-PT melakukan penilaian institusi perguruan tinggi dengan memperhatikan dua komitmen inti, yaitu :
1. Komitmen inti pertama : Kapasitas Institusi
Kapasitas institusi dicerminkan dalam ketersediaan dan kecukupan berbagai perangkat dasar yang diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan, seperti:
-Eligibilitas, integritas, visi, misi, tujuan, dan sasaran
-Tata pamong (governance)
-Sistem Pengelolaan
-Sumber daya manusia
-Prasarana dan sarana
-Keuangan
-Sistem informasi

2. Komitmen inti kedua : Efektivitas pendidikan
Efektifitas pendidikan dicerminkan dengan tersedianya sejumlah masukan, proses dan suasana yang diperlukan dalam proses pendidikan serta produk kegiatan akademik seperti:
-Kemahasiswaan
-Kurikulum
-Sistem pembelajaran
-Penelitian, publikasi, karya inovatif lainnya, pengabdian kepada masyarakat
-Sistem jaminan mutu
-Suasana akademik
-Lulusan
-Mutu Program Studi

Menilik Akreditasi PBSI
Berbicara tentang akreditasi yang belum lama ini diselenggarakan jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UNY. Awalnya sempat berhembus kabar tentang penurunan akreditasi jurusan PBSI. Namun, hal itu tidak terbukti setelah BAN-PT mengeluarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 017 tahun 2012, tertanggal 29 Juni 2012, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FBS UNY meraih peringkat A dalam proses akreditasi tahun 2012. Peringkat akreditasi tersebut berlaku selama lima tahun, sejak 29 Juni 2012 sampai dengan 29 Juni 2017. Terbitnya Surat Keputusan ini patut di syukuri segenap keluarga prodi PBSI FBS UNY.

Apa yang di Dapat Mahasiswa Dari Akreditasi?
Menurut Dr. Maman Suryaman manfaat yang akan di dapat mahasiswa dari akreditasi adalah akses mahasiswa terhadap sarana dan prasarana mudah seperti perpustakaan, hotspot, dan dosen yang bagus. Selain itu mahasiswa juga mudah mencari pekerjaan karena biasanya suatu lembaga atau perusahaan menetapkan standar akreditasi A atau minimal B. Kemudian mahasiswa mudah mendapat peluang studi ke luar negeri.

Mepertahankan Lebih Berat Daripada Meraihnya.
Dr. Maman Suryaman, M.Pd., mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kepentingan akreditasi. “Alamdulilah Prodi PBSI memperoleh akreditasi A dan kita bersama-sama harus mampu mempertahankan peringkat akreditasi di masa kini, dan lebih meningkatkan lagi di masa yang akan datang” tambah Kajur PBSI.


(Diolah dari berbagai sumber)
Reporter : Ngalim Mustakim, Putri Wardani

Mumpung Masih (Menjadi) Mahasiswa

Ketika itu siang hari, tepat setelah shalat jumat di salah satu masjid. Saya bersama kawan saya -terbilang lebih senior dari saya- sedang asyik mengobrol. Suasana terbawa pada perbincangan yang agak serius. Ketika itu dia menceritakan segala kenangannya selama menjadi mahasiswa baru sampai pada saat ini. Dia mulai mempertanyakan bahwa satu minggu lagi dia akan wisuda. Rasa senang dan bangga tentulah ada di benak dia, sedangkan dia belum juga memperoleh pekerjaan, relasi, serta pengalaman dalam berorganisasi. Pertanyaan paling mendasar bagi dia adalah ketika wisuda nanti, satu hari setelahnya dia akan menanggalkan status sebagai mahasiswa. Tentu segalanya akan berubah, mulai dari pola pikir serta orientasi ke depan. “Entahlah, saya belum tahu satu hari setelah wisuda itu saya akan melakukan apa”. Keluh dia sambil menatap langit yang sangat cerah pada waktu itu. 

Dari penggalan cerita di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa apakah kita sudah menyiapkan diri untuk menjadi mahasiwa yang siap ketika wisuda nanti? Ada yang mengatakan bahwa sebaiknya kita lulus kuliah dengan waktu yang cepat dan setelah itu dapat pekerjaan. Ada juga yang mengatakan bahwa sebaiknya kita lulus tepat pada waktunya. Menurut saya, dari kedua pendapat tersebut masih terlalu normatif. Seakan-akan hanya berorientasi pada output (baca: tujuan). Padahal sebelum kita dinyatakan lulus tersebut terdapat proses panjang yang harus kita lalui. Baiklah, di sini kita tidak membahas kapan kita akan lulus. Namun, yang perlu menjadi tanda tanya besar kita adalah apakah kita sudah membekali diri sebagai seorang mahasiswa dengan sebaik mungkin? Ingat, di luar sana masih banyak sekali sarjana yang menganggur, ada juga yang bekerja tidak sesuai dengan keahliannya. Bukan apa-apa, itu karena mereka dipaksa untuk membanting setir demi mendapatkan sesuap nasi. 

Akhirnya, tibalah saat kita untuk merenungkan dan memikirkan rencana strategis mulai dari membuat rencana jangka pendek, menengah, kemudian jangka panjang. Pola pikir kita harus kita atur sedemikian rupa agar tidak selalu berorientasi kepada tujuan besar. Tugas kita bukan untuk berhasil, tapi mencoba. Karena, dari mencoba tersebut kita akan memperoleh kesempatan untuk berhasil. Tentu saja dalam mencoba tersebut kita akan menemui kendala, permasalahan, dan hambatan, bukan? Nah, di saat itulah kita harus bisa menguatkan diri sendiri dan lantas tidak terjebak pada situasi tersebut sehingga yang terjadi akan berkeluh kesah dan tidak ada upaya yang pasti. 

Menjadi seorang mahasiswa selayaknya menjadi mahasiswa yang dapat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar kita. Salah satu upaya kita adalah menjadi mahasiswa yang selalu disibukkan kepada kegiatan dan rutinitas. Dengan begitu, kita akan memperoleh banyak relasi. Apapun itu kegiatannya, bisa berupa ormawa, organisasi ekstrakampus, UKM, komunitas penelitian, sastra, atau komunitas apa saja yang menuntut kita bisa lebih aktif dan peduli terhadap sesuatu. Di saat itulah, tanggung jawab dan komitmen kita akan diuji. Dalam kegiatan tersebut kemampuan kita semakin terasah, begitu juga dengan mental kita. Ketika kita sudah menemui kendala, permasalahan, dan hambatan dalam bertindak, berarti kita sudah mulai bisa mengurai masalah, selanjutnya berpikir mencari solusi yang terbaik. Jika akhirnya jalan untuk menemui solusi tersebut keliru atau kurang tepat, tidaklah menjadi masalah, kemudian setelah itu kita harus bisa mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut agar di kemudian hari tidak terulang lagi. dan begitu seterusnya. 

Salah dan keliru ketika masih muda (baca: mahasiswa) akan senantiasa dapat dimaklumi dan merupakan hal yang wajar, beda dengan saat kita sudah menjadi tenaga professional karena dituntut serba beres dan tanpa kesalahan. Maka, dunia perkuliahan akan menjadi sebuah “laboratorium” yang sangat berharga bagi kita yang masih menyandang status sebagai mahasiswa. Carilah kesibukan dan perbanyak relasi agar senantiasa memilki bekal dan mampu menjawab segala macam tantangan zaman. Rugi rasanya jika di dunia perkuliahan kita hanya mendapatkan teori-teori kuliah saja. Mumpung masih menjadi mahasiswa, dan belum terlambat seperti kisah di atas. 

Salam budaya!! 



Faisal Isnan
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indoneisa 2009)

Penyair Akademisi

Suminto A. Sayuti, lahir pada tanggal 26 Oktober 1956, di Purbalingga, Jawa Tengah. Dosen sekaligus Guru Besar di Fakultas Bahasa dan Seni UNY ini, gemar sekali dengan wayang dan gamelan. Ia menyelesaikan SD (1968), SMP (1971), dan SMA ( 1974) di kota kelahirannya. Setelah memperoleh gelar sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia dan FKSS IKIP Yogyakarta (1979), ia diangkat menjadi dosen di IKIP Yogyakarta. 

Dosen Prodi PBSI dan BSI ini, pada tahun 1983-1984 mengikuti penataran penelitian sastra yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa di Tugu, Bogor (tahap I,II,III). Setelah setahun masuk Program S-2, dosen yang juga penyair dua bahasa (Jawa dan Indonesia) ini langsung loncat ke Program Doktor (S-3) dan lulus pada tahun 1996. 

Suminto A Sayuti adalah penulis yang produktif, salah satunya yaitu dibidang puisi. Sempat dua kali menjadi Dekan Fakultas Seni dan Budaya UNY, dan saat ini masih aktif menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni UNY, ia tak bisa melepaskan kekagumannya pada untaian puisi. Menulis puisi menjadi keseharian di sela mengajar dan menguji makalah disertasi di beberapa universitas di Semarang, Yogyakarta, Solo, hingga Malang. Dari puisi pula ia memperoleh kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Kegairahan inilah yang dia tularkan kepada para mahasiswanya. 

Masih aktif mengajar dengan gaya santai disertai guyonan segar, membuat Profesor satu ini dinanti mahasiswanya. Tak satupun mahasiswanya yang mengantuk saat menerima materi darinya. Mata kuliah yang dia bawakan tidak hanya berkutat pada teori, tetapi ia juga memotivasi mahasiswanya untuk mengapresiasi seni tak hanya berhenti di tataran teori. 

Ia termasuk segelintir dari penyair yang masih menekuni dunia akademisi. Padahal, pada era 1960-1970-an, penyair sempat marak bermunculan dari kalangan akademisi. Nama sastrawan besar seperti Umar Kayam yang juga sosiolog, Kuntowijoyo yang berprofesi sebagai sejarawan, hingga Bakdi Soemanto pernah menghidupkan jagat kepenyairan Yogyakarta. 

Kehadiran penyair dari kampus sanggup bersinergi dengan penyair otodidak seperti Emha Ainun Nadjib dan Imam Budi Santosa. Kemesraan hubungan penyair dari lingkungan akademisi dan otodidak ini, sayangnya, tak berjalan kekal. 

Kata dosen tiga anak ini, penyair akademisi cenderung memasuki ranah spesialisasi dengan fokus pada wilayah sastra atau malah berhenti berkarya untuk menjadi ilmuwan. ”Penyair yang bertahan di wilayah penciptaan dan pengamatan semakin jarang,” keluhnya. 

Sebagai seniman dan akademisi, ia mengawinkan kebebasan berekspresi dan teori keilmuan dalam irama pendidikan yang membebaskan. Kecintaannya pada seni, antara lain, dijembatani dengan menempati ruang kerja bersebelahan dengan laboratorium karawitan. Setiap hari ia bekerja diiringi gamelan Jawa. 

Bagi Prof. Suminto, tiap zaman mempunyai semangat dan tuntutan berbeda. Penyair akademisi maupun seniman hanya dipisahkan ruang karya, tetapi mereka tetap berada pada wilayah seni yang sama. Profesi akademisi yang terikat logika berpikir sistematik bukan halangan untuk berkarya di ranah puisi yang menonjolkan segi pembebasan diri. 

Setiap dua bulan sekali puisi karyanya biasa dibacakan di Taman Budaya Yogyakarta, terutama oleh Komunitas Sarkem (UNY), Jaringan Anak Bahasa (Universitas Ahmad Dahlan), Sanggar Jepit (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), dan Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta. Selain menulis puisi, ia aktif menabuh gamelan Jawa. Ia juga menyiapkan kumpulan puisi berbahasa Indonesia dan berbahasa Jawa yang akan diterbitkan menjadi buku. 

Bapak dari tiga anak (Bayu, Sekar, Sadewa) ini sempat menulis cerpen dan buku teks pembelajaran sastra. Namun, kepuasan utama tetap dia dapat dari puisi. Karya puisi, cerpen, dan esai seni budayanya banyak menghiasi majalah dan surat kabar seperti Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Yogya Post, Bernas, Pikiran Rakyat, Republik, Berita Buana, Pelita, Suara Karya, dan Horison. Sejumlah puisinya antara lain dibukukan dalam Malam Lereng (1984), Tugu (1987), Tonggak (1987), Syair-syair Cinta (1987), Melodia Rumah Cinta (1988), dan Ambang (1990). Karya-karya lain Prof. Dr. Suminto yakni Kumpulan Sajak Malam Tamansari, Resepsi Sastra, Intertekstualitas: Pemandu Pengkajian Sastra, Ensiklopedia Sastra Indonesia. 


Sumber: 
Mawar Kusuma. 2012. Penyair dan Guru Besar “Nyeleneh”. http://edukasi.kompas.com/read/2009/03/23/22254379/Penyair.dan.Guru.Besar.Nyeleneh. Diunduh pada tanggal 23 September 2012. 
Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Jogja: Gama Media.